Tampak segerombolan ibu-ibu sedang berbincang2 di sore hari di sebuah lapangan dekat kantor kepala desa. Tampak terdengar seorang ibu muda menangis tersedu-sedu, menceritakan kegundahan hatinya tentang suaminya yang gemar berjudi sehingga uang bulanan yang biasa keluarga mereka gunakan untuk mempertahankan dapur tetap ‘ngebul’ pun tak tersisa. Ekspresi raut wajah ibu-ibu lain yang mendengarkan kisahnya pun tampak sendu, turut merasakan kegalauan si ibu muda.
Pemandangan seperti ini mungkin sudah jarang kita temui lagi disekitar kita. Dengan semakin cepatnya berkah waktu berlalu, masing-masing individu pun mulai memperhatikan diri mereka sendiri, tanpa peduli lingkungan sekitarnya.
Beberapa waktu ini saya coba kembali terjun ke beberapa media sosial. Setelah sekian lama sama hanya berkutat di med-sos yang berhubungan dengan kegiatan dagang saya, akhirnya saya mencoba kembali ke med-sos yang sempat saya tinggalkan karena menurut saya kurang menarik dan kurang berfungsi dalam kegiatan saya.
Seiring berjalannya waktu, setelah sekian lama saya tinggalkan, perubahan yang signifikan telah terjadi. Entah itu karena semakin bertambahnya usia teman-teman saya yang masih aktif, atau memang sense of awareness masyarakat dewasa ini sudah mulai berkurang.
GALAU
Mungkin tiap orang pernah merasakan hal ini. Tak dipungkiri, galau tidak memandang usia. Anak kecil akan tampak galau ketika orang tua mereka tidak membelikan mainan yang dia inginkan, meskipun dia sudah merengek dahsyat didepan mereka. Pebisnis sukses pun galau ketika mereka dihadapkan pada pilihan bisnis yang sama-sama menguntungkan atau merugikan. Galau pun dirasakan oleh para kawula muda ketika mereka bingung dalam memilih tempat kuliah yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Yang tak aneh adalah ketika para kawula muda ini menggalaukan kehidupan percintaan mereka.
Jadi mari kita sepakati, setiap manusia yang memiliki hati pasti pernah mengalami fase ini. Baik muda, maupun tua.
Fasilitas Teknologi
Mengutip kisah ibu-ibu diatas, rasanya sudah jarang kita temui hal ini di kota-kota besar. Pesatnya perkembangan teknologi pun menuntut kita berperilaku lebih canggih dalam berinteraksi sosial. Munculnya med-sos pun seolah memfasilitasi manusia dalam kemudahan berinteraksi. Sampai akhirnya interaksi langsung tatap muka pun makin lama makin terganti oleh interaksi di dunia maya.
Bayangkan ketika interaksi seperti cerita diatas dipindah tempatkan ke dalam interaksi dunia maya. Ekspresi wajah mereka yang mendengarkan cerita si ibu muda mungkin akan tampak semu. Atau bisa jadi, tangisan si ibu muda akan terlihat palsu di dunia maya. Tak heran, kalau dewasa ini banyak orang yang bermuka dua.
Tapi kita pun tak bisa menyalahkan teknologi sepenuhnya.
Simpati
Dalam ilmu sosiologi,terdapat faktor-faktor yang menyebabkan berlangsungnya interaksi sosial. Salah satunya adalah Simpati. Simpati sendiri merupakan proses ketika seseorang merasa tertarik dengan pihak lain. Simpati akan dapat berkembang jika terdapat saling pengertian dari kedua belah pihak. Simpati disampaikan kepada seseorang pada saat-saat tertentu, bisa saat gembira bisa pula saat bersedih. Perasaan simpati ini bisa menimbulkan perasaan sayang.
Contohnya saja ketika seseorang mengalami sebuah musibah. Bisa jadi kegalauan seseorang ini merupakan sebuah musibah bagi orang tersebut. Kembali ke kisah diatas, ibu-ibu yang mendengarkan curahan hati si ibu muda menunjukkan rasa simpati mereka pada si ibu muda.
Dewasa ini…
Memang saat ini saya sedang dilanda kegalauan, meskipun sebenarnya tidak terlalu juga di dunia nyatanya. Namun saya akhirnya memutuskan, kenapa tidak saya jadikan riset sosial saja kegalauan saya ini? Akhirnya saya pun mencoba mengaktifkan kembali media sosial saya yang sudah berdebu. Saya coba perlahan-lahan posting kegalauan yang berlebihan. Dan hingga akhirnya saya mendapatkan beberapa respon yang beragam. Ada yang menunjukkan rasa simpatinya, ada pula yang memandang sebelah mata. Tak sedikit pula yang memilih tidak berkomentar, entah karena malas atau memang tidak memperhatikan posting saya.
Saya pun akhirnya bisa menarik kesimpulan bahwa :
” 2 dari 10 pengguna sosial media masih memiliki rasa simpati, sisanya tidak peduli bahkan menolak keras ‘sampah kegalauan’ di beranda sosial media mereka”
Hasil ini bukan hasil yang kongkrit dan signifikan, karena ini hanya hasil penalaran saya saja. Namun terbukti dalam riset yang saya lakukan.
Kesimpulan yang bisa saya tarik adalah bahwa dewasa ini manusia memiliki sikap acuh tak acuh berlebih terhadap masalah orang lain. Tidak hanya masalah saja sebenarnya, kebahagiaan orang lain pun kadang tidak mereka pedulikan. Mereka hanya peduli pada apa yang bersinggungan dengan mereka, segala hal yang melibatkan mereka. Melihat kembali fungsi media sosial yang selalu tercantum kata ‘Share’ didalamnya tanpa ada embel-embel ‘Fun Share’, ‘Happiness Share’ atau ‘Sadness Share’ semestinya membebaskan mereka para pemilik akun untuk men-share-kan apa yang mereka inginkan. Kebebasan berpendapat pun selama itu tidak menyinggung orang lain, tidak berbau SARA saya rasa tidak berhak dikritisi atau disindir. Lebih baik hapus dari daftar pertemanan daripada harus membalas dengan sindiran. Tapi harus dilakukan dengan bijak, kenapa? kembali lagi pada bahasan diatas tentang galau. Akan selalu ada fase dimana manusia galau, dan manusia galau tersebut suatu waktu pasti akan bangkit dari kegalauannya. Tak dipungkiri, anda pun pernah melakukan hal ini bukan? Daripada harus bersikap ‘anti’, kenapa tidak kita bantu saja mereka bangkit dari kegalauannya? Semakin banyak bantuan untuk mereka yang galau, semakin cepat pula beranda anda terhindar dari ‘sampah kegalauan’ yang panjang bukan?
Sharing is Fun, Helping people is more than Fun 😀