Hai…

Standard

Hai Malam, apa kabar?

Kau tampak pucat malam ini, dingin.
Maaf, aku pun tak bisa berbuat apa-apa.
Aku cuma bisa merasakannya.

Hai Malam, kau butuh teman malam ini?

Lihat mereka sedang bersenang-senang.
Menikmati tubuhmu yang panjang saat ini.
Mereka bercumbu diatas dinginnya tubuhmu, berselimut cinta dan nafsu.
Aku? Ahh, aku sedang tidak butuh itu.
Kutemani kau saja ya, Malam.

Hai Malam, kau akan datang lagi esok kan?

Aku? Entahlah, Malam.
Aku tak tau. Bahkan aku tak tau, bisa menemanimu sampai sang Pagi datang menjemputmu pulang atau tidak.
Hanya Dia yang tau sampai kapan nafasku berhembus, syukur kalau besok aku masih bisa menjumpaimu lagi.

Hai Malam, kenapa kau mau temani aku?

Aku tak seperti kau yang selalu menemaniku.
Kadang aku terlalu sibuk sampai lupa padamu.
Kadang aku acuh padamu ditengah hiruk pikuk dunia.
Tapi kenapa kau tak tinggalkan saja aku seperti yang lain?

Sudahlah, mungkin kau terlalu bodoh hingga selalu setia menemaniku.
Atau aku yang terlalu bodoh hingga selalu lupa padamu?

Sentilan Untuk Para Pengguna MedSos (termasuk saya)

Standard

Tampak segerombolan ibu-ibu sedang berbincang2 di sore hari di sebuah lapangan dekat kantor kepala desa. Tampak terdengar seorang ibu muda menangis tersedu-sedu, menceritakan kegundahan hatinya tentang suaminya yang gemar berjudi sehingga uang bulanan yang biasa keluarga mereka gunakan untuk mempertahankan dapur tetap ‘ngebul’ pun tak tersisa. Ekspresi raut wajah ibu-ibu lain yang mendengarkan kisahnya pun tampak sendu, turut merasakan kegalauan si ibu muda.

Pemandangan seperti ini mungkin sudah jarang kita temui lagi disekitar kita. Dengan semakin cepatnya berkah waktu berlalu, masing-masing individu pun mulai memperhatikan diri mereka sendiri, tanpa peduli lingkungan sekitarnya.

Beberapa waktu ini saya coba kembali terjun ke beberapa media sosial. Setelah sekian lama sama hanya berkutat di med-sos yang berhubungan dengan kegiatan dagang saya, akhirnya saya mencoba kembali ke med-sos yang sempat saya tinggalkan karena menurut saya kurang menarik dan kurang berfungsi dalam kegiatan saya.

Seiring berjalannya waktu, setelah sekian lama saya tinggalkan, perubahan yang signifikan telah terjadi. Entah itu karena semakin bertambahnya usia teman-teman saya yang masih aktif, atau memang sense of awareness masyarakat dewasa ini sudah mulai berkurang.

GALAU

Mungkin tiap orang pernah merasakan hal ini. Tak dipungkiri, galau tidak memandang usia. Anak kecil akan tampak galau ketika orang tua mereka tidak membelikan mainan yang dia inginkan, meskipun dia sudah merengek dahsyat didepan mereka. Pebisnis sukses pun galau ketika mereka dihadapkan pada pilihan bisnis yang sama-sama menguntungkan atau merugikan. Galau pun dirasakan oleh para kawula muda ketika mereka bingung dalam memilih tempat kuliah yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Yang tak aneh adalah ketika para kawula muda ini menggalaukan kehidupan percintaan mereka.

Jadi mari kita sepakati, setiap manusia yang memiliki hati pasti pernah mengalami fase ini. Baik muda, maupun tua.

Fasilitas Teknologi

Mengutip kisah ibu-ibu diatas, rasanya sudah jarang kita temui hal ini di kota-kota besar. Pesatnya perkembangan teknologi pun menuntut kita berperilaku lebih canggih dalam berinteraksi sosial. Munculnya med-sos pun seolah memfasilitasi manusia dalam kemudahan berinteraksi. Sampai akhirnya interaksi langsung tatap muka pun makin lama makin terganti oleh interaksi di dunia maya.

Bayangkan ketika interaksi seperti cerita diatas dipindah tempatkan ke dalam interaksi dunia maya. Ekspresi wajah mereka yang mendengarkan cerita si ibu muda mungkin akan tampak semu. Atau bisa jadi, tangisan si ibu muda akan terlihat palsu di dunia maya. Tak heran, kalau dewasa ini banyak orang yang bermuka dua.

Tapi kita pun tak bisa menyalahkan teknologi sepenuhnya.

Simpati

Dalam ilmu sosiologi,terdapat faktor-faktor yang menyebabkan berlangsungnya interaksi sosial. Salah satunya adalah Simpati. Simpati sendiri merupakan proses ketika seseorang merasa tertarik dengan pihak lain. Simpati akan dapat berkembang jika terdapat saling pengertian dari kedua belah pihak. Simpati disampaikan kepada seseorang pada saat-saat tertentu, bisa saat gembira bisa pula saat bersedih. Perasaan simpati ini bisa menimbulkan perasaan sayang.

Contohnya saja ketika seseorang mengalami sebuah musibah. Bisa jadi kegalauan seseorang ini merupakan sebuah musibah bagi orang tersebut. Kembali ke kisah diatas, ibu-ibu yang mendengarkan curahan hati si ibu muda menunjukkan rasa simpati mereka pada si ibu muda.

Dewasa ini…

Memang saat ini saya sedang dilanda kegalauan, meskipun sebenarnya tidak terlalu juga di dunia nyatanya. Namun saya akhirnya memutuskan, kenapa tidak saya jadikan riset sosial saja kegalauan saya ini? Akhirnya saya pun mencoba mengaktifkan kembali media sosial saya yang sudah berdebu. Saya coba perlahan-lahan posting kegalauan yang berlebihan. Dan hingga akhirnya saya mendapatkan beberapa respon yang beragam. Ada yang menunjukkan rasa simpatinya, ada pula yang memandang sebelah mata. Tak sedikit pula yang memilih tidak berkomentar, entah karena malas atau memang tidak memperhatikan posting saya.

Saya pun akhirnya bisa menarik kesimpulan bahwa :

” 2 dari 10 pengguna sosial media masih memiliki rasa simpati, sisanya tidak peduli bahkan menolak keras ‘sampah kegalauan’ di beranda sosial media mereka”

Hasil ini bukan hasil yang kongkrit dan signifikan, karena ini hanya hasil penalaran saya saja. Namun terbukti dalam riset yang saya lakukan.

Kesimpulan yang bisa saya tarik adalah bahwa dewasa ini manusia memiliki sikap acuh tak acuh berlebih terhadap masalah orang lain. Tidak hanya masalah saja sebenarnya, kebahagiaan orang lain pun kadang tidak mereka pedulikan. Mereka hanya peduli pada apa yang bersinggungan dengan mereka, segala hal yang melibatkan mereka. Melihat kembali fungsi media sosial yang selalu tercantum kata ‘Share’ didalamnya tanpa ada embel-embel ‘Fun Share’, ‘Happiness Share’ atau ‘Sadness Share’ semestinya membebaskan mereka para pemilik akun untuk men-share-kan apa yang mereka inginkan. Kebebasan berpendapat pun selama itu tidak menyinggung orang lain, tidak berbau SARA saya rasa tidak berhak dikritisi atau disindir. Lebih baik hapus dari daftar pertemanan daripada harus membalas dengan sindiran. Tapi harus dilakukan dengan bijak, kenapa? kembali lagi pada bahasan diatas tentang galau. Akan selalu ada fase dimana manusia galau, dan manusia galau tersebut suatu waktu pasti akan bangkit dari kegalauannya. Tak dipungkiri, anda pun pernah melakukan hal ini bukan? Daripada harus bersikap ‘anti’, kenapa tidak kita bantu saja mereka bangkit dari kegalauannya? Semakin banyak bantuan untuk mereka yang galau, semakin cepat pula beranda anda terhindar dari ‘sampah kegalauan’ yang panjang bukan?

Sharing is Fun, Helping people is more than Fun 😀

Bung Tomo, Membara di Bawah Payung

Standard

103851648_135872659651

Siapa yang tidak kenal foto ini, sebuah foto fenomenal yang menjadi simbol semangat rakyat Indonesia, khususnya rakyat Surabaya, dalam mengusir para penjajah. Ekspresi wajah yang tampak terbakar api semangat merepresentasikan jiwa-jiwa muda yang marah akan ketidakadilan para kompeni. Sebagian besar dari kita mungkin sudah mengenal siapa sebenarnya sosok penyemangat ini, atau bahkan jauh lebih mengenal sosok ini dibanding saya sendiri.

Dari Kecil Sudah Berjuang

Bung Tomo, pria kelahiran 3 Oktober 1920 ini merupakan Arek Suroboyo asli. Anak dari Kartawan Tjiptowidjojo, seorang ayah yang serba bisa, ini sejak remaja sangat terampil dalam bidang kepanduan (pramuka). Sutomo kecil sempat menempuh pendidikan formal namun terpaksa keluar dari MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) saat usinya baru 12 tahun. Ketrampilannya dalam kepanduan akhirnya mentakdirkan ia untuk bergabung dengan KBI atau Kepanduan Bangsa Indonesia. Di usia 17 tahun ia berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mendapatkan peringkat Pandu Garuda. Sampai Jepang akhirnya menginjakkan kaki di tanah air, hanya 3 orang yang berhasil mencapai peringkat ini dan Sutomo adalah salah satunya.

Bung Tomo dan Dunia Jurnalistik

Bung Tomo semasa hidupnya tak pernah lepas dari dunia media dan militer. Sosok yang terkenal karena siaran-siaran radionya yang dipenuhi oleh emosi dan semangat ini telah lama malang melintang di dunia jurnalistik. Ia mengawali karir jurnalistiknya sebagai wartawan lepas di Harian Soeara Oemoem di Surabaya tahun 1937. Setelah setahun kemudian in menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat. Selain itu dia juga berkontribusi di harian berbahasa Jawa di Surabaya, Ekspres, pada tahun 1939. Saat Jepang berkuasa di tanah air, Bung Tomo sempat bekerja di kantor berita tentara pendudukan Jepang, Domei. Tidak berhenti sampai disitu, saat Proklamasi ramai dikumandangkan diseluruh penjuru negeri, Bung Tomo dan wartawan senior Romo Bintarti turut menyiarkan momen penting ini dalam bahasa Jawa agar terhindar dari sensor Jepang. Dan selanjutnya ia menjadi Pimpina Redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya.

Simbol Semangat 10 November

Dengan jiwa dan semangatnya yang menggebu-gebu dalam mengusir para penjajah, Bung Tomo berhasil memberikan dan menyalurkan semangat juangnya pada rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Surabaya. Aksi heroik rakyat Surabaya pada 10 November 1945 tidak lepas dari perannya yang selalu memberi semangat para pejuang untuk melawan NICA. Pidato dan siaran radionya seolah-olah menghipnotis para jiwa-jiwa pejuang untuk tetap mempertahankan kemerdekan Indonesia. Meskipun para pejuang Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November, namun semangat juang dan keberanian mereka wajib kita acungi jempol.

Bung Tomo, Sang Pahlawan Nasional

Sebagai motivator dan pembakar semangat juang para pembela kemerdekaan, Bung Tomo sangat pantas diberi gelar Pahlawan Nasional. Setelah Pemerintah Indonesia didesak oleh GP Anshor dan Fraksi Partai Golkar, akhirnya pada tanggal 10 November 2008 Bung Tomo resmi mendapat gelar Pahlawan Nasional bertepatan dengan Hari Pahlawan.

Bober Cafe, Rekomendasi Late Dinner Cafe di Bandung

Standard

Buat para mahasiswa yang doyan nongkrong sampe malem, atau mungkin buat kalian yang terserang lapar di tengah malam, cafe yang satu ini bisa jadi penyelamat. Dengan konsep kafe ala amerika, kalian bisa memilih ruangan indoor maupun outdoor. Untuk sekedar nongkrong minum kopi atau makan berat, kafe ini memang pilihan yang cocok. Terutama untuk anak muda gaul seperti kita-kita.

Untuk menu makanan, Bober termasuk kafe yang memiliki banyak pilihan, yang pastinya cocok untuk selera anak muda.

Kali ini saya coba memesan Chicken Honey Lemon dan Special Blended Thai Tea sebagai pelepas dahaganya. Tanpa menunggu lama, meskipun suasana sedang ramai, makananpun datang. Tampilan makanan dan minumannya sangat menggugah selera. Dan ketika Chicken Honey Lemonnya saya lahap, LUARRR BIASAAA! Campuran madu dan lemon yang meresap ke dalam daging ayamnya sungguh nikmat. Tak perlu menunggu lama, hidangan luar biasa ini habis saya lahap.

image

Special Thai Tea

Setelah asik menyantap makanan, mata saya tertuju pada minuman yang saya pesan, Special Thai Tea. Saya memang penggemar berat minuman unik ini. Campuran rasa susu kental manis berpadu dengan teh memang memanjakan lidah.

Segera saya cicipi minuman yang menggoda ini. Baru satu teguk mengalir di tenggorokan saya, saya sudah bisa merasakan nikmatnya minuman yang saya pesan dingin ini. Sungguh tak ada tandingannya. Mungkin karena yang saya pesan ini versi spesialnya, hehe.

Dipadu dengan tempat yang cozy, menu makanan yang banyak dan enak, dan tentunya, WiFi gratis membuat tempat ini menjadi salah satu rekomendasi tempat nongkrong 24 jam yang pas.

Bober Cafe
Jalan R.E. Martadinata (Riau) no. 123
(022) 7234295

Kolektor Juga Bisa Berhemat

Standard

Seperti yang kita tahu, setiap orang pasti punya hobi masing-masing. Ada yang hobi memasak, menjahit, bahkan beberapa orang (seperti yang banyak saya lihat di jejaring sosial) memilih tidur sebagai salah satu hobinya. Kadang setiap individu tidak hanya memiliki satu kegemaran saja, bahkan lebih dari lima kegemaran.

Jujur, saya adalah salah seorang yang memiliki cukup banyak kegemaran. Tapi disini saya hanya ingin membahas satu kegemaran saya saja, yang menurut saya cukup unik. Kegemaran yang saya miliki ini bisa dibilang cukup mahal. Orang yang memiliki hobi seperti ini disebut “Kolektor” atau dalam Bahasa Inggris disebut Collector.

image DSC_0008

Beberapa barang koleksi yang saya miliki.

Keharusan dalam mendapatkan barang koleksi membuat hobi ini cukup dipandang sinis oleh banyak orang. Banyak yang beranggapan bahwa orang yang menggeluti hobi ini merupakan orang-orang yang boros dan senang menghamburkan uang. Bahkan banyak orang bilang hobi ini cuma buat orang-orang tajir alias ber”duit”.

Jujur saja, saya bukan orang berduit. Tapi saya mempunyai hobi mengoleksi mainan-mainan yang memang collectible. Sebut saja diecast. Diecast adalah miniatur mobil yang terbuat dari bahan metal atau plastik. Diecast bisa berbentuk mobil asli yang ada di pasaran, bisa juga berbentuk mobil fiksional hasil karya desainer-desainer diecast ternama. Hotwheels adalah salah satu merek produk diecast yang saya gandrungi, selain merek matchbox, tomica, dan jada yang juga menghiasi lemari koleksi diecast saya.

DSC_0009

Koleksi diecast saya yang masih menumpuk di kardus.

Selain diecast, saya juga mengoleksi Playing Card, atau yang biasa dikenal orang awam dengan kartu remi. Bedanya, kartu remi yang saya koleksi berdua dengan adik saya ini bukan kartu remi biasa seperti yang dijual di warung-warung dekat rumah. Melainkan jenis kartu yang sudah berstandart dan tergabung dalam USPCC (United State Playing Card Corporation). Bedanya dengan kartu remi biasa adalah kualitas bahan dan hasil finishing yang digunakan. Biasanya USPCC dilapisi oleh Air Cushion Finish yang membuat kartu ini nyaman dipegang dan mudah untuk digunakan dalam permainan khususnya Sulap Kartu. Bicycle, Arcane, dan Season adalah beberapa merek yang ada dalam daftar koleksi USPCC saya.

Selain beberapa collectible item di atas, masih ada beberapa barang lagi yang saya koleksi bersama adik saya. Mighty Beanz, Yu-Gi-Oh Trading Cards, TechDeck Finger Board, Action Figure, Millitary Model Kits dan masih banyak lagi.

Bisa kalian bayangkan bukan pengeluaran yang dibutuhkan untuk mengoleksi item-item tersebut? Tapi saat ini saya tidak pernah kelabakan dengan masalah pengeluaran untuk mensuplai hobi saya yang satu ini. Memang awalnya, ketika saya mulai mengoleksi Hotwheels saya sempat keteteran karena banyaknya mobil-mobil bagus yang ingin saya beli. Dan pada saat itu, hasrat jiwa saya untuk membeli tidak terbendung. Alhasil, dompet saya terkuras habis!

Tapi setelah sekian lama menggeluti dunia ini, saya mulai bisa membaca pola-pola yang bisa mencegah dompet saya bocor bagai keran yang dibiarkan terbuka terus-menerus. Pola-pola ini saya simpulkan dalam beberapa tips untuk kalian, yang mungkin setelah membaca artikel ini, jadi tertarik untuk berhobi sama seperti saya.

Tips Kolektor Hemat:

  1. Usahakan kalian punya schedule dan plan tiap bulan dalam membeli barang koleksi. Sediakan pula dana tak terduga untuk mengantisipasi barang-barang koleksi yang tiba-tiba harus dibeli (biasanya untuk mengantisipasi pembelian barang-barang yang limited edition).\
  2. Ajak keluarga anda (adik, kakak, saudara, ayah, ibu, atau bahkan anak kita) untuk ikut mengoleksi barang yang kita koleksi. Dalam hal ini, para kolektor biasa menyebutnya ‘Menyebarkan Racun’. Tujuannya agar kita bisa mendapatkan barang tanpa harus mengeluarkan uang kita sendiri. Ya, join lah istilahnya.
  3. Bergaullah di komunitas-komunitas sesama kolektor barang yang kita koleksi. Seperti misalnya komunitas pecinta Hotwheels, atau sebagainya. Biasanya dengan bergabung di komunitas, info-info yang kita dapat dari para anggotanya sangat bermanfaat. Apalagi biasanya para kolektor bisa saling bertukar barang atau bahkan menjual barang mereka dengan harga miring. Bisa dihemat deh uang kita.
  4. Dalam dunia kolektor, biasanya penggelut hobi ini sudah tidak asing lagi dengan istilah lelang. Ya, lelang barang koleksian tentunya. Kalau kalian pintar dalam memilih lapak lelang dan pintar memasang bid (selain faktor beruntung juga tentunya), bisa saja kalian mendapatkan barang koleksi dengan harga yang sangat jauh dari harga pasarannya. Pintar-pintarlah memilih dan menimbang lapak lelangan.

Sebenarnya masih banyak tips-tips yang mungkin tidak saya jelaskan di artikel ini. Atau bahkan kalian punya beberapa tips yang mungkin saya sendiri belum menyadarinya. Mungkin kita bisa saling share pengalaman di artikel ini. Karena sesama kolektor adalah saudara.

🙂

The Odessa File (Frederick Forsyth; 1972)

Standard

3177572664113486558136763575233139941396867234n

 Judul Buku : The Odessa File

 Penulis : Frederick Forsyth

 Penerbit : Hutchinson (Cetakan Pertama), Serambi (Edisi Indonesia)

 Tebal : 508 halaman

 Terbit : 1972 (Cetakan Pertama), 2011 (Edisi Indonesia)

 Genre : Thriller Fiction

(SPOILER!! Jangan dibaca kalau sedang membaca buku ini, karena mengandung sebagian ulasan cerita buku ini!)

Continue reading

My Journey Journal #1 – Pulang Kampung Dadakan (Part 1)

Aside

(Tulisan ini sudah mulai ditulis pada November 2012, namun sempat ‘terbengkalai’ di draft dan baru dipost hari ini)

Ahh, seminggu sudah aku tinggalkan rutinitas yang membosankan. Tanpa ada rencana sebelumnya, aku putuskan untuk sejenak meninggalkan Kota Bandung yang penuh dengan rutinitas menjemukan. Tempat yang kutuju kali ini memang tidak aneh lagi bagiku. Surabaya, hampir 700km jarak yang harus ditempuh dari Bandung. Tanpa pikir panjang aku hubungi orang tua, setidaknya memberi kabar bahwa aku akan bertandang.

Perjalanan kali ini sengaja aku rencanakan berbeda dari perjalananku ke Surabaya biasanya. Selama ini, perjalanan yang ditempuh selama 12 jam itu aku manfaatkan dengan duduk manis di kursi kereta eksekutif yang empuk dan nyaman. Tapi kali ini, kelas bisnis yang aku ambil!

Segera aku cari info harga kelas bisnis dari Stasiun Bandung Kota ke Stasiun Surabaya Gubeng. Mutiara Selatan yang menjadi pilihanku harganya berkisar antara 175.000 rupiah sampai 225.000 rupiah. Oke, Mutiara Selatan. Lalu hari apa? Mana mungkin aku pilih weekend untuk hari keberangkatanku. Pasti akan sangat mahal harga tiketnya. Akhirnya kuagendakan Senin. Tapi ternyata, ketika reservasi di Stasiun Bandung Kota, harga tiket untuk hari Senin bahkan melebihi harga rata-rata. 255.000 rupiah! Mungkin akibat libur panjang sebelumnya (Kamis sampai Minggu). Mau tak mau keberangkatan pun aku undur sampai keesokan harinya. Untuk tiket hari Selasa hanya 175.000 rupiah. Akhirnya, tiket hari Selasa tanggal 20 November 2012 sudah di genggaman tangan. Aku siap berkelana!

KRD PATAS Padalarang – Bandung

Hari yang dinanti pun akhirnya tiba. Tepat pukul 12.30 aku meninggalkan rumah menuju Stasiun Padalarang. Jarak yang cukup jauh dari rumah memaksaku harus menyewa jasa ojeg dari depan cluster sampai stasiun. Kali ini aku harus berpacu melawan waktu, karena KRD PATAS jurusan Padalarang – Bandung akan segera tiba pada pukul 12.45. Hanya punya waktu 15 menit! Untung saja tukang ojegnya ahli dan handal, sehingga masih ada waktu untuk membeli tiket KRD. KRD PATAS jurusan Padalarang – Bandung pun masuk peron tepat waktu.

Perjalanan kereta dari Padalarang sampai ke Bandung hanya ditempuh sekitar 15 menit, dengan hanya berhenti di Stasiun Gadobangkong, Stasiun Cimahi, dan terakhir Stasiun Bandung Kota. Pemandangan yang disuguhkan selama perjalanan pun sudah tak asing lagi, karena aku biasa menempuh jalur ini setiap kali naik KA Argo Parahyangan jurusan Jakarta – Bandung pp. Setelah 15 menit, kereta ekonomi AC yang ditarik oleh loko CC201 ini masuk peron Stasiun Bandung Kota.

Berangkat!

Tak terasa waktu sudah cukup lama berlalu sejak aku menapakkan kaki di stasiun ini. Tampak dihadapanku rangkaian kereta Mutiara Selatan seolah masih nyenyak tertidur di peraduannya.

Seruling lokomotif Mutiara Selatan bersiul nyaring dari Peron 6 Stasiun Kota Bandung ketika jarum jam menunjukkan pukul 5 sore. Bersamaan dengan itu pula, ular besi yang semula tertidur mulai menggeliat, berjalan mengikuti dua batang besi sejajar yang menjadi lajurnya. Perlahan kereta pun meninggalkan stasiun.

“Sampai jumpa Bandung!” seruku dalam hati.

Bersambung